Latest Entries »

menantimu,Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!” Suamiku menjawab: “Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.” Aku mengangguk.

Suamiku kembali bekerja seperti biasa. Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.” Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika. Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.

Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang

mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.

Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.

Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!” Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?” Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam.

Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba. Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.” Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku. Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Aamiin, Alhamdulillah…

(**Sumber: PercikanIman.org)

Rahasia Seorang Ibu

…Janganlah hanya melihat betapa cerdasnya Imam Syafi’i,
betapa bijaksananya Umar bin Abdul Aziz, dan tokoh-tokoh agung lainnya.
Tapi lihatlah dulu, siapa ibunya…
…Janganlah pula hanya melihat betapa bejatnya si fulan,
betapa jahatnya si fulin, dan tokoh-tokoh busuk dan buruk lainnya.
Tapi lihatlah juga, siapa ibunya…
[Oleh karenanya, janganlah mencari Istri
TETAPI carilah Ibu untuk anak-anak kita]
Ada sebuah hadits dari Imam Ja’far ash-Shadiq yang diriwayatkan oleh al-Allamah al-Faidhul Kasyani dalam tafsirnya ash-Shafi di tengah perbincangan tafsir dari firman Allah swt. yang berbunyi, “…Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…” (QS. Ali Imran: 6). Dalam hadits itu diceritakan tentang dua malaikat yang mendatangi janin yang berada di perut Ibunya, lalu keduanya meniupkan ruh kehidupan dan keabadian, dan dengan izin Allah, keduanya membuka pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota badan, serta seluruh yang terdapat di perut. Kemudian Allah mewahyukan kepada kedua malaikat itu, “Tulislah qadha, takdir, dan pelaksanaan perintahku, dan syaratkanlah bada’ bagiku terhadap yang kamu tulis.” Kedua malaikat itu berkata, “Wahai Tuhanku, apa yang harus kami tulis?” Maka, Allah Azza wa Jalla menyeru keduanya untuk mengangkat kepala keduanya di hadapan ibunya, sehingga mereka mengangkatnya. Tiba-tiba terdapat layar (lauh) terpasang di dahi ibunya, maka kedua malaikat itu menyaksikannya dan menemukan pada layar tersebut bentuk, hiasan, ajal, dan perjanjiannya, sengsarakah atau bahagiakah serta seluruh perkaranya.Kandungan riwayat di atas sesuai dengan sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud yang berbunyi, “Orang yang sengsara adalah yang sengsara di dalam perut ibunya dan orang yang bahagia adalah yang bahagia dalam perut ibunya.” Maksudnya adalah bahwa seorang anak mendapatkan dasar-dasar kesengsaraan dan kebahagiaan pada pertumbuhan pertama di perut ibunya. Hukum keturunan di samping memindahkan sifat-sifat bentuk tubuh dan fisik dari ibu pada anak, juga sifat-sifat moral/akhlak dan spiritual dari ibu berpindah pada janin sewaktu berada di perut ibunya. Sehingga di perut Ibu itulah tergambar jelas calon Pembela Islam, Pejuang Syariah dan Khilafah, Ilmuwan Muslim, Koruptor, Penipu, Pemimpin dzalim, dan sebagainya yang nantinya mempengaruhi sebuah Peradaban.

Secara ilmiah telah jelas,(karena penekanan di awal catatan adalah seorang Ibu, maka objek pembahasan selanjutnya adalah seorang Ibu, meski tidak menafikkan peranan seorang ayah), betapa hukum keturunan berpengaruh dalam memindahkan sifat-sifat ibu kepada anak melalui gen-gen turunan. Dalam buku Prinsip-prinsip Ilmu Genetika, Mahdi Ubaid mengatakan bahwa di dalam setiap (sperma pria dan) sel telur wanita terdapat inti atom yang mengandung 24 kromosom, yang masing-masing kromosom memuat satuan-satuan hidup mencapai seratus satuan atau lebih, yang dinamakan Gen. Gen merupakan satuan terkecil pada materi yang hidup, yaitu satuan-satuan turunan. Masing-masing gen mempunyai tugas khusus menentukan perkembangan individu, bentuk eksternalnya, dan perilakunya. Terdapat gen-gen yang berpengaruh terhadap warna mata, yang berpengaruh terhadap warna kulit, yang mempengaruhi bentuk badan, besarnya, atau kecerdasannya. Dengan demikian, gen keturunan memiliki peranan penting dalam kehidupan anak, yaitu turut serta dalam memberikan identitas yang independen pada anak, yang membedakannya dengan yang lain.

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa hubungan keturunan juga memainkan peranan yang sangat penting dalam melakukan aktivitas pemindahan sifat batin internal, yang memiliki pembawaan moral dan spiritual, yang selanjutnya pengaruhnya tidak terbatas pada pembentukan ciri-ciri jasmaniah lahiriah anak saja. Inilah yang, barangkali, dimaksud dengan firman Allah swt.:

“…Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur…”

(QS. al-A’raf: 58)

Maka, dalam kitab al-Mustathraf dinukil sabda Rasulullah saw. yang mengatakan, “Lihatlah kepada siapa kamu meletakkan nutfah (sperma) kamu, karena sesungguhnya asal (al-Irq) itu menurun kepada anaknya.” Terdapat kesesuain antara yang diperbincangkan oleh ilmuwan bahasa Arab tentang arti al-Irq dengan yang dibicarakan oleh ilmuwan biologi dan genetika tentang gen-gen yang menurun, yaitu atom-atom yang mempunyai satu sel tadi.Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa hukum keturunan memainkan peranan yang penting. Ibu yang baik-baik tentu akan menurunkan gen yang baik-baik pula pada anak. Sedang Ibu yang buruk-buruk, dia juga akan mewariskan gen yang buruk-buruk pula.

Sungguh pun demikian, seperti yang ditegaskan oleh Husain Mazhahiri -seorang pakar muslim dalam pendidikan anak- hukum keturunan bukanlah sebab mutlak. Maksudnya, hukum keturunan tidak berlaku mutlak; bahwa jika ibunya adalah pendosa, misalnya, maka anaknya secara otomatis akan menjadi pendosa; bahwa apabila ibunya adalah seorang muslimah yang shalihah, maka anaknya secara otomatis akan menjadi shalih-shalihah. Dalam kenyataannya, anak seorang pendosa pun bisa menjadi baik dan bermoral terpuji. Begitu pula sebaliknya, anak orang baik-baik bisa tumbuh menjadi penjahat yang meresahkan dunia.

Sampai di sini, kiranya menjadi jelas bahwa apabila seorang Ibu semasa kehidupan mudanya sering melakukan perbuatan dosa dan maksiat, maka potensi yang amat besar terjadi pada anak-anaknya untuk tumbuh dan berkembang sebagai pendosa dan ahli maksiat. Dan yang diwariskan oleh seorang Ibu adalah gen, bukan dosa. Dosa hanyalah perbuatan yang dikerjakan yang bertentangan dengan ajaran agama. Seorang Ibu yang melakukan dosa dan maksiat, tentu akan dihukumi dosa. Begitu pula, anak yang melakukan dosa dan maksiat, tentu akan dihukumi dosa pula. Ini tidak berarti -sebagaimana konsep dosa waris ajaran kristen- bahwa dosa itu diturunkan atau diwariskan. Dosa adalah bagi si pembuat dosa itu sendiri.

Dan, karena hukum keturunan tidaklah berlaku secara mutlak, maka apabila Seorang Ibu memiliki riwayat hidup sebagai pendosa dan ahli maksiat, yang hal ini sangat berpengaruh pada anak-anaknya, tetapi anak-anaknya tetap memiliki potensi untuk tidak menjadi pendosa dan ahli maksiat seperti Ibunya. Lewat lingkungan dengan disiplin pendidikan dan pembinaan yang baik dan benar dalam menapaktilasi jalan-jalan yang lurus, sang anak bisa mengenyahkan kecenderungan untuk berbuat dosa dan maksiat. Namun, tentu anak tersebut menghadapi kendala yang amat sulit jika dibandingkan dengan anak yang lahir dari Ibu yang baik-baik.

“…Seseorang akan mengikuti agama teman akrabnya (di lingkungan sekitarnya), oleh sebab itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa teman akrab kalian.” 

(HR. Imam Abu Daud)

Ada sebuah kisah tentang masyarakat Basrah yang waktu itu sedang dilanda kemelut sosial. Kebetulan mereka kedatangan ulama besar yang bernama Ibrahim bin Adham. Masyarakat Basrah pun mengadukan nasibnya kepada Ibrahim bin Adham, “Wahai Abu Ishak (panggilan Ibrahim bin Adham), Allah berfirman dalam Al-Quran agar kami berdoa.

Kami warga Basrah sudah bertahun-tahun berdoa, tetapi kenapa doa kami tidak dikabulkan Alloh?

Ibrahim bin Adham menjawab, “Wahai penduduk Basrah, karena hati kalian telah mati dalam sepuluh perkara.Bagaimana mungkin doa kalian akan dikabulkan Allah!

1. Kalian mengakui kekuasaan Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya.

2. Setiap hari kalian membaca Al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya.

3. Kalian selalu mengaku cinta kepada rasul, tetapi kalian meninggaklan pola prilaku sunnah-sunnahnya.

4. Setiap hari kalian membaca ta’awudz, berlindung kepada Allah dari setan yang kalian sebut sebagai musuhmu, tetapi setiap hari pula kalian memberi makan setan dan mengikuti langkahnya.

5. Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga, tetapi perbuatan kalian justru bertentangan dengan keinginan itu.

6. Katanya kalian takut masuk neraka, tetapi kalian justru mencampakkan dirimu sendiri kedalamnya.

7. Kalian mengakui bahwa maut adalah keniscayaan, tetapi nyatanya kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

8. Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian tidak mampu melihatnya.

9. Setiap saat kalian menikmati karunia Allah, tetapi kalian lupa mensyukurinya.

10. Kalian sering menguburkan jenazah saudaramu, tetapi kalian tidak bisa mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

” Terakhir ia mengatakan, “Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda nabi, “Berdoalah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu bahwa Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main.”

Kisah lain terjadi ketika di Basrah Irak, dilanda kekeringan, kesulitan air dan hujan tak jua turun. Maka penduduk Basrah sepakat untuk mengadakan sholat istisqo’ untuk meminta hujan. Para ulama dan tokoh masyarakat hadir untuk melakukan sholat dan berdo’a meminta keridhoan Alloh menurunkan hujan. Namun hingga beberapa kali sholat istisqo’ dilaksanakan, hujanpun tak jua turun.

Hingga suatu malam di masjid, usai sholat istisqo’ siang harinya, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani melihat seorang berkulit gelap, berwajah sederhana, dengan betis tersingkap yang terlihat kecil, dan perut buncit datang di malam buta, ketika masjid telah sepi. Yang belakangan diketahui Malik bin Dinar, ia adalah budak seorang yang sangat kaya raya di Basrah, yang malamnya habis untuk menangis karena bermunajat kepada Alloh dan siangnya habis untuk sholat dan puasa. Budak tersebut di masjid melakukan sholat dua rakaat dengan bacaan surat yang tidak terlalu panjang. Ruku’ dan sujudnya juga sama pendeknya dengan lama berdirinya. Usai sholat dia menengadahkan tangan ke langit sambil berdo’a yang di dengar oleh Malik bin Dinar: “Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya”. Setelah mendengar itu Malik bin Dinar berkata,“Belum lagi dia menyelesaikan perkataannya, angin dingin tebal menggelayut di langit. Kemudian tidak lama, hujan turun dengan begitu derasnya”. Subhaanalloh, do’a seorang budak yang serta merta dikabulkan-Nya.

Kini…..marilah kita berkaca diri. Ketika do’a-do’a kita tak di dengar, ketika do’a-do’a kita tak terjawab, barangkali ada diantara sepuluh hal yang dikemukakan oleh Ibrahim bin Adham di atas terjadi pada diri kita. Bila memang ada, sudah selayaknyalah kita berbenah diri. Beristighfar sebanyak-banyaknya, demi memperoleh ampunannya. Melakukan taubat, taubatan nashuha, sambil terus berusaha melakukan berbagai upaya yang mendukung terhadap hal-hal yang kita pinta. Dan jangan pernah berhenti berdo’a, karena Alloh akan menganggap kita sebagai orang yang sombong bila kita tidak memohon pada-Nya.

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kamu kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” ( Q.S.Al Mu’min:60). Robb……bimbinglah kami, agar kami menjadi orang-orang yang senatiasa menggantungkan diri hanya kepada-Mu, dan senantiasa mengharap rahmat-Mu. Aamiin. Wallohu a’lam bishowwab.

taken from n21imuth.multiply.com

Setelah kita mengetahui tentang tujuan menikah maka Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup karena hidup berumah tangga tidak hanya untuk satu atau dua tahun saja, akan tetapi diniatkan untuk selama-lamanya sampai akhir hayat kita.

Muslim atau Muslimah dalam memilih calon istri atau suami tidaklah mudah tetapi membutuhkan waktu. Karena kriteria memilih harus sesuai dengan syariat Islam. Orang yang hendak menikah, hendaklah memilih pendamping hidupnya dengan cermat, hal ini dikarenakan apabila seorang Muslim atau Muslimah sudah menjatuhkan pilihan kepada pasangannya yang berarti akan menjadi bagian dalam hidupnya. Wanita yang akan menjadi istri atau ratu dalam rumah tangga dan menjadi ibu atau pendidik bagi anak-anaknya demikian pula pria menjadi suami atau pemimpin rumah tangganya dan bertanggung jawab dalam menghidupi (memberi nafkah) bagi anak istrinya. Maka dari itu, janganlah sampai menyesal terhadap pasangan hidup pilihan kita setelah berumah tangga kelak.

Lalu bagaimanakah supaya kita selamat dalam memilih pasangan hidup untuk pendamping kita selama-lamanya? Apakah kriteria-kriteria yang disyariatkan oleh Islam dalam memilih calon istri atau suami?

A. Kriteria Memilih Calon Istri

Dalam memilih calon istri, Islam telah memberikan beberapa petunjuk di antaranya :

1. Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuanyang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits di atas dapat kita lihat, bagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan kecantikan sekalipun.

Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .” (QS. Al Baqarah : 221)

Sehubungan dengan kriteria memilih calon istri berdasarkan akhlaknya, Allah berfirman :

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) … .” (QS. An Nur : 26)

Seorang wanita yang memiliki ilmu agama tentulah akan berusaha dengan ilmu tersebut agar menjadi wanita yang shalihah dan taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wanita yang shalihah akan dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya :

“Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)

Sedang wanita shalihah bagi seorang laki-laki adalah sebaik-baik perhiasan dunia.

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

2. Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :

Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ” … kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak … .” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Al Waduud berarti yang penyayang atau dapat juga berarti penuh kecintaan, dengan dia mempunyai banyak sifat kebaikan, sehingga membuat laki-laki berkeinginan untuk menikahinya.

Sedang Al Mar’atul Waluud adalah perempuan yang banyak melahirkan anak. Dalam memilih wanita yang banyak melahirkan anak ada dua hal yang perlu diketahui :

a. Kesehatan fisik dan penyakit-penyakit yang menghalangi dari kehamilan. Untuk mengetahui hal itu dapat meminta bantuan kepada para spesialis. Oleh karena itu seorang wanita yang mempunyai kesehatan yang baik dan fisik yang kuat biasanya mampu melahirkan banyak anak, disamping dapat memikul beban rumah tangga juga dapat menunaikan kewajiban mendidik anak serta menjalankan tugas sebagai istri secara sempurna.

b. Melihat keadaan ibunya dan saudara-saudara perempuan yang telah menikah sekiranya mereka itu termasuk wanita-wanita yang banyak melahirkan anak maka biasanya wanita itu pun akan seperti itu.

3. Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah.

Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat yang agung, di antara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dari hal-hal yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktuyang sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuh kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan suami yang kedua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan sebagian hikmah menikahi seorang gadis :

Dari Jabir, dia berkata, saya telah menikah maka kemudian saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan bersabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Apakah kamu sudah menikah ?” Jabir berkata, ya sudah. Bersabda Rasulullah : “Perawan atau janda?” Maka saya menjawab, janda. Rasulullah bersabda : “Maka mengapa kamu tidak menikahi gadis perawan, kamu bisa bermain dengannya dan dia bisa bermain denganmu.”

4. Mengutamakan orang jauh (dari kekerabatan) dalam perkawinan.

Hal ini dimaksudkan untuk keselamatan fisik anak keturunan dari penyakit-penyakit yang menular atau cacat secara hereditas.

Sehingga anak tidak tumbuh besar dalam keadaan lemah atau mewarisi cacat kedua orang tuanya dan penyakit-penyakit nenek moyangnya.

Di samping itu juga untuk memperluas pertalian kekeluargaan dan mempererat ikatan-ikatan sosial.

B. Kriteria Memilih Calon Suami

1. Islam.

Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi seorang Muslimah dalam memilih calon suami sebab dengan Islamlah satu-satunya jalan yang menjadikan kita selamat dunia dan akhirat kelak.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“ … dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita Mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang Mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. Al Baqarah : 221)

2. Berilmu dan Baik Akhlaknya.

Masa depan kehidupan suami-istri erat kaitannya dengan memilih suami, maka Islam memberi anjuran agar memilih akhlak yang baik, shalih, dan taat beragama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Apabila kamu sekalian didatangi oleh seseorang yang Dien dan akhlaknya kamu ridhai maka kawinkanlah ia. Jika kamu sekalian tidak melaksanakannya maka akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan tersebarlah kerusakan.” (HR. At Tirmidzi)

Islam memiliki pertimbangan dan ukuran tersendiri dengan meletakkannya pada dasar takwa dan akhlak serta tidak menjadikan kemiskinan sebagai celaan dan tidak menjadikan kekayaan sebagai pujian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)

Laki-laki yang memilki keistimewaan adalah laki-laki yang mempunyai ketakwaan dan keshalihan akhlak. Dia mengetahui hukum-hukum Allah tentang bagaimana memperlakukan istri, berbuat baik kepadanya, dan menjaga kehormatan dirinya serta agamanya, sehingga dengan demikian iaakan dapat menjalankan kewajibannya secara sempurna di dalam membina keluarga dan menjalankan kewajiban-kewajibannya sebagai suami, mendidik anak-anak, menegakkan kemuliaan, dan menjamin kebutuhan-kebutuhanrumah tangga dengan tenaga dan nafkah.

Jika dia merasa ada kekurangan pada diri si istri yang dia tidak sukai, maka dia segera mengingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yaitu :

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Jangan membenci seorang Mukmin (laki-laki) pada Mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai.” (HR. Muslim)

Sehubungan dengan memilih calon suami untuk anak perempuan berdasarkan ketakwaannya, Al Hasan bin Ali rahimahullah pernah berkata pada seorang laki-laki :

“Kawinkanlah puterimu dengan laki-laki yang bertakwa sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika tidak menyukainya maka dia tidak akan mendzaliminya.”

Untuk dapat mengetahui agama dan akhlak calon suami, salah satunya mengamati kehidupan si calon suami sehari-hari dengan cara bertanya kepada orang-orang dekatnya, misalnya tetangga, sahabat, atau saudara dekatnya.

Demikianlah ajaran Islam dalam memilih calon pasangan hidup. Betapa sempurnanya Islam dalam menuntun umat disetiap langkah amalannya dengan tuntunan yang baik agar selamat dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Wallahu A’lam Bis Shawab.

Baihaqi dan Ibnu Asakir telah memberitakan dari Said bin Al-Musaiyib, bahwa Khalifah Abu Bakar ra. pernah mengutus pasukan Islam ke Syam, dan menyerahkan kepemimpinan pasukan itu di tangan Yazid bin Abu Sufyan ra, Amru bin Al-Ash ra. dan Syurahbil bin Hasanah ra. Mereka pun menunggang kuda masing-masing untuk berangkat, namun Abu Bakar ra. tetap berjalan kaki untuk melepas pasukan itu hingga ke Tsaniyatil-Wadak. Maka para panglima Islam itu berkata kepada Khalifah Abu Bakar ra.: “Wahai Khalifah Rasulullah! Tidak enak rasanya, engkau berjalan kaki sedangkan kami menunggang kuda?!” “Jangan turun dari atas tunggangan kalian”, jawab Khalifah Abu Bakar. “Aku menganggap langkah-langkah ini dari berjuang pada jalan Allah!”.

Sambil berjalan kaki, Khalifah mengingatkan pasukan itu, katanya: Aku berpesan kepada kamu supaya bertaqwa kepada Allah. Berjuanglah pada jalan Allah, dan perangilah siapa yang mengkufuri Allah, kerana Allah senantiasa akan memenangkan agamaNya! Jangan membuat aniaya, jangan berkhianat, jangan melarikan diri, jangan membuat kerusakan di muka bumi, jangan mendurhakai perintah ketua. Jika kamu berhadapan dengan musuh dari kaum musyrik itu, insya Allah nanti, maka serulah mereka kepada tiga perkara. Jika mereka setuju, terimalah dari mereka dan jangan memerangi mereka lagi!
Mula-mula serulah mereka kepada Islam! jika mereka setuju memeluk Islam, terimalah mereka dan berhenti memerangi mereka!

Kemudian ajaklah mereka berpindah dari tempat mereka itu ke negeri Islam, tempat orang yang berhijrah. jika mereka mau datang, beritahulah mereka bahwa mereka akan mendapat hak sesuai dengan hak yang didapati oleh kaum Muhajirin, dan atas mereka hak sesuai dengan hak yang ditanggung oleh kaum Muhajirin. Tetapi jika mereka menerima Islam, lalu mereka memilih hendak menetap di negeri mereka sendiri, tidak sanggup untuk berhijrah ke negeri tempat menetapnya kaum Muhajirin, maka hendaklah kamu memberitahu mereka bahwa mereka akan dikenakan syarat seperti yang dikenakan ke atas kaum Arab yang lain yang mendiami negeri mereka. Mereka wajib menerima hukum-hukum Allah yang difardhukan ke atas semua kaum Mukminin, mereka tidak akan diberikan hasil upeti dan harta rampasan perang, sehingga mereka mau berjuang bersama-sama kaum Muslimin.

Jika mereka enggan memeluk lslam, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka wajib membayar upeti (jizyah). Jika mereka setuju membayar upeti, terimalah dari mereka dan berhentikan memerangi mereka.

Jika itu juga mereka enggan menerima, maka mohonlah bantuan Allah untuk memerangi mereka, dan teruskanlah perjuangan kamu insya Allah!. Tetapi janganlah memotong pepohonan korma, jangan membakamya, jangan membunuh binatang-binatang, jangan menebas pepohonan buah, jangan robohkan rumah kediaman, jangan membunuh anak-anak kecil, orang tua dan wanita. Dan jika kamu dapati orang yang menyembunyikan dirinya di dalam gereja atau rumah agama, maka jangan kamu mengganggu mereka, dan biarkanlah mereka dalam keadaan mereka itu. Dan kamu akan dapati dari kumpulan ini yang bertopengkan agama, yang menyediakan tempat untuk syaitan bersarang di kepalanya, maka jika kamu dapati orang serupa ini, hendaklah kamu tebas kepala mereka, insya Allah!

(Kanzul Ummal 2:295-296)

Baihaqi memberitakan dari Urwah, bahwa Abu Bakar As-Shiddiq ra. pernah menyerahkan kepemimpinan pasukan kepada Khalid bin Al-Walid ra. ketika diutus kepada kaum yang murtad dari orang-orang Arab, supaya dia mula-mula mengajak mereka kembali kepada Islam serta menerangkan kembali apa yang wajib bagi mereka dan ke atas mereka, dan meneguhkan keyakinan mereka kepada Islam! Maka barangsiapa yang menerima seruan itu di antara mereka, tidak kira yang merahnya ataupun yang hitamnya, mestilah dia menerima darinya. Sebab dia hanya disuruh untuk memerangi siapa yang mengkufuri Allah dan menolak keimanan kepadanya saja. Maka apabila orang yang diseru itu sudah menerima Islam, dan benar keimanannya, tidak ada jalan baginya untuk memeranginya lagi, dan Allah sajalah yang bakal membuat perhitungan dengannya! Tetapi, barangsiapa yang enggan menerima seruan Islam itu, dan tidak mau kembali kepada Islam dari orang yang murtad darinya, maka hendaklah dia memerangi dan membunuhnya!
(Kanzul Ummal 3:143

Bisyarah Nabi

Bagaimana andai kata kita mendapatkan uang Rp 2 Milyar dalam waktu sekejap. Dan kabar itu datang. Dan kita juga mengetahui bahwa uang itu berasal dari hal yang halal tentunya. Maka, sesuatu ini pun akan kita kejar. Setelah mendapatkan uang sejumlah Rp 2 Milyar itu maka kegembiraanlah yang akan dirasakan. Bukan saja oleh kita pribadi tapi juga oleh orang-orang disekeliling kita.

Hal yang sama juga dirasakan oleh sepasang suami-istri yang telah berumah tangga lebih dalam 5 tahun. Namun, Allah tidak kunjung memberikan anak kepada mereka. Suatu ketika sang istri mengalami ciri-ciri orang yang sedang dalam keadaan mengandung, dan saat diperiksakan ke dokter benarlah, bahwa sang istri sedang dalam keadaan hamil. Maka, kabar gembira itu pun akan di sambut dengan baik, bergegas menyiapkan berbagai keperluan sang istri dan buah hati.

Begitulah bisyarah. Merupakan kabar gembira. Bisyarah nabi artinya adalah kabar gembira dari Allah SWT melalui lisan nabi. Dan inilah, yang membuat para sahabat bersemangat berjuang menegakan agama islam. Bisyarah itu merupakan hal bersifat pasti dan akan terwujud. Permasalahannya, perwujudan itu tidak pernah kita tahu kapan kan datang menjelang. Sama seperti bisyarah akan datangnya uang Rp 2 M dan juga bayi di dalam kandungan.

Suatu ketika, saat sedang dilaksanakan pelatihan, seorang trainer bertanya kepada para pesertanya. Dengan tegas ia lontarkan kalimat, “ Siapa yang mau mewujudkan bisyarah-bisyarah nabi ini?”. Ada yang ragu, ada yang malu-malu dan bahkan ada yang enggan mengangkat tangannya menggapai bisyarah ini. Dan segelintir orang saja yang mengangkat tangannya, tanda keberanian mereka mengejar janji tersebut. Sang trainer kemudian maju ke depan dan menendang podium yang ada. Ia mengatakan, “ Oooo… begini rupanya ummat terbaik tersebut?”

Ya, banyak sekali seribu alasan yang seakan-akan orang tidak berani mengambil langkah ekstrem dan tegas, dan memilih cara-cara batil dan enggan berjuang meneggakkan agama Islam ini. Padahal, Muhammad al-fatih yang senantiasa diberikan wejangan oleh Aaq Syamsuddin tentang bisyarah penaklukan konstantinopel tidak berdiam diri. Bisyarah itu pun dikejar olehnya, dan ia meyakini bisyarah itu terwujud dengan cara-cara ekstrem dan sesuai dengan aturan Islam. Bisyarah Rasul itu merupakan sebuah keyakinan kita bahwa kemenangan kaum muslimin akan senantiasa terwujud dengan menyelesaikan dan mewujudkan mimpi-mimpi bisyarah kenabian tersebut.

“Akan ada masa kenabian pada kalian selama yg Allah kehendaki Allah mengangkat atau menghilangkan kalau Allah menghendaki. Lalu akan ada masa Khilafah di atas manhaj nubuwwah selama Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yg sangat kuat selama yg Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan selama yg Allah kehendaki kemudian Allah mengangkat bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj nubuwwah.“ Kemudian beliau diam.” (HR. Ahmad)

Hadits di atas merupakan bisyarah dari Allah SWT melalui Rasul-Nya, yang menjelaskan bahwa suatu ketika Khilafah itu akan kembali. Kembalinya kekhilafahan ini, akan sama dengan keberadaan khilafah yang ada pada zaman para sahabat.

Kembalinya Khilafah ini, merupakan janji dan kabar gembira yang pasti (qoth’i) yang sewaktu-waktu akan terwujud dan tegak dan tertunaikan. Permasalahannya adalah, apakah kita memilih diam dan mengangguk-angguk tanpa melakukan tindakan yang nyata? Padahal kondisi saat ini, harusnya memacu kita lebih cepat lagi untuk menggapai Bisyarah ini.

Mungkin kalimat yang pas yang harus saya sampaikan kepada para sahabat semua mungkin seperti ini. “Wahai sahabat, Sungguh Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya telah berujar bahwa Khilafah itu akan datang kembali. Khilafah itu akan tegak kembali. Dan sungguh, sepertinya kita yang akan mewujudkan hadits ini. Aku merasa bahwa inilah waktunya, bagi kita semua bergerak kawan. Kita sudah seringkali melihat kebiadaban musuh, kedzhaliman penguasa, dan kesengsaraan ummat. Waktu kita terbatas sahabat. Kalau bukan saat ini, mungkin waktu yang akan diperlukan untuk mewujudkan ini akan lebih lama lagi. Mari sahabat, Bukankah ini janji-Nya, bukankah terwujudnya ini menjadi sebuah mukjizat nabi, dan juga menyelamatkan ummat di seluruh dunia. Kawan, kaum muslim di seluruh dunia nasibnya tergantung pada kita.”

Mari kawan, Bisyarah ini harus segera kita wujudkan. Atau kita lebih memilih berdiam saja. Padahal kita semua bakal menerima kematian. Apakah sama orang-orang yang mati yang memperjuangkan tegaknya Khilafah dan Syariat Islam dengan orang yang berdiam diri atau bahkan memperjuangkan kekufuran demokrasi itu. Ingat kawan, dalam kehidupan ini kita hanya bisa memilih satu pilihan. Menjadi Taqwa atau menjadi kufur.

te2p SEMANGAT saudara2 ku menggapai bisyarah Nabi itu,, perjuangan itu begitu dekat…

sumber : Zain Rahman El-Palembani (dari blog seorang teman)
Fokus Institut/ Direktur Syiar-islam.com

Wahai akhifillah, beritahu aku,
kapankah kau akan marah?Jika milik kita yang suci dihina,
dan tempat kita dihancurkan,

dan kau tidak menjadi marah?

Jika sifat ksatria kita dibunuh,
dan kehormatan kita diinjak-injak,

dan dunia kita berakhir,
dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Jika sumberdaya kita dirampas,
dan institusi kita diruntuhkan,

dan masjid-masjid kita dihancurkan,
dan masjid al-Aqsa dan al-Quds kita
tetap dirampas,
dan kau tidak menjadi marah?

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Musuhku, atau musuhmu,
menghina kehormatan,

darahku dijadikan mainan oleh dia,
dan kau jadi penonton permainan.

Jika untuk Allah, untuk suatu yang suci,
untuk Islam kau tidak marah,

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Aku melihat kengerian,
Aku melihat darah mengucur.

Wanita-wanita tua mengiringi
anak-anak menjemput maut mereka.

Aku telah melihat segala macam bentuk penindasan.
Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi beritahu aku,
kapankah kau akan marah?

Dan kau duduk seperti boneka bisu,
perutmu memenuhi kantor.

Kau habiskan malam banggakan angka-angka,
dengan uang, curahkan dirimu kepada berkas-berkasnya.

Aku melihat kematian diatas kepala-kepala kami.
Dan kau tidak menjadi marah.

Jadi terus terang saja padaku,
jangan malu-malu:

kamu ada di Ummat yang mana?

Jika kau juga derita, apa yang kami derita,
tidak menjadikan kamu ingin membalas,

maka tidak usah repot.

Karena kamu bukanlah kami, maupun bagian dari kami,
bahkan kamu bukan bagian dari dunia manusia.

Jadi hiduplah sebagai kelinci,
dan matilah sebagai kelinci.

Mungkin  kurangnya pengetahuan mengenai “ke-Aqidah-an”, masih banyak ummat Islam yang mengikuti ritual paganisme ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan para ustadz dan ustazdahpun ikut merayakannya dan terjebak di dalamnya. Apalagi gencarnya media televisi dan media massa lainnya mempublikasikan seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh beberapa da’i muda atau yang bergelar ustadz [setengah artis, katanya sih !]. Ditambah lagi kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga, rekan atau sahabat yang memperingati hari lahirnya. Dan tak kurang kelirunya sejak di Taman Kanak-kanak dan SD sudah diajarkan secara praktek langsung bahkan ada termaktub dalam buku-buku kurikulum mereka . Wallahu a’lam. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka.

Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama (Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi Isa) mereka tidak merayakan Upacara UlangTahun, karena mereka menganggap bahwa pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.

Pada masa Herodeslah acara ulang tahun dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 14:6;

Tetapi pada HARI ULANG TAHUN Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, ditengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6)

Dalam Injil Markus 6:21

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada HARI ULANG TAHUNNYA mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. (Markus 6:21)

————————————————————-

Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21;
celebrating of birthday is Paganism, and Jesus (Isa, peace be upon him) doesn’t to do it, but Herod.

Matthew 14:6 :

“But when Herod’s birthday was kept, the daughter of Herodias danced before them, and pleased Herod”.

Mark 6:21 :

And when a convenient day was come, that Herod on his birthday made a supper to his lords, and the high captains, and the chief men of Galilee.

————————————————————-

Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca buku :Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298)

Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan selamat ulang tahun kepada keluarga maupun teman, sahabat pada hari ULTAHnya. Bahkan tidak sedikit yang aktif dakwah (ustadz dan ustadzah) pun turut larut dalam tradisi jahiliyah ini.

Sedangkan kita sama-sama tahu bahwa tradisi ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia MUHAMMAD Shalallah Alaihi Wasallam, dan kita ketahui Rasulullah adalah orang yang paling mengerti cara bermasyarakat, bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara menggembirakan para sahabat-sahabatnya. Rasulullah paling mengerti bagaimana cara mensyukuri hidup dan kenikmatannya. Rasulullah paling mengerti bagaimana cara menghibur orang yang sedang bersedih. Rasulullah adalah orang yang paling mengerti CARA BERSYUKUR dalam setiap hal yang di dalamnya ada rasa kegembiraan. Adapun tradisi ULANG TAHUN ini merupakan tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum paganism, maka Rasulullah memerintahkan untuk menyelisihinya. Apakah Rasulullah pernah melakukannya ? Apakah para sahabat Rasululah pernah melakukannya ? Apakah para Tabi’in dan Tabiut tabi’in pernah melakukannya ? Padahal Herodes sudah hidup pada jaman Nabi Isa. Apakah Rasulullah mengikuti tradisi ini ? Apakah 3 generasi terbaik dalam Islam melakukan ritual paganisme ini ?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah pernah bersabda:

“Kamu akan mengkuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk kedalam lobang biawak kamu pasti akan memasukinya juga”. Para sahabat bertanya,”Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?”Rasulullah menjawab:”Siapa lagi jika bukan mereka?!”.

Rasulullah bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“ Man tasabbaha biqaumin fahua minhum” (Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar).

Allah berfirman;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. Al Baqarah : 120)

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran , pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra’:36)

“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. an-Nuur: 15)

Janganlah kita ikut-ikutan, karena tidak mengerti tentang sesuatu perkara. Latah ikut-ikutan memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti darimana asal perayaan tersebut.

Ini penjelasan Nabi tentang sebagian umatnya yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan lebih memilih tuntunan dan cara hidup diluar Islam. Termasuk juga diantaranya adalah peringatan perayaan ULTAH, meskipun ditutupi dengan labelSYUKURAN atau ucapan selamat MILAD atau Met MILAD seakan-akankelihatan lebih Islami.

Ingatlah ! Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasul.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang “tidak ada perintah dari kami padanya” maka amalan tersebut TERTOLAK (yaitu tidak diterima oleh Allah).” [HR. Muslim]

Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA ISLAM. Mereka tidak mengucapkan dan tidak memperingati Ulang Tahun, walaupun mungkin sebagian manusia menganggapnya baik.

Pahamilah “Kaidah” yang agung ini;

لو كان خيرا لسبقون اليه

“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi”
SEANDAINYA PERBUATAN ITU BAIK, MAKA RASULULLAH, PARA SAHABAT, TABI’IN DAN TABIUT TABI’IN PASTI MEREKA LEBIH DAHULU MENGMALKANNYA DARIPADA KITA. Karena mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan daripada kita yang hidup di jaman sekarang ini.

Jika kita mau merenung apa yang harus dirayakan atau disyukuri BERKURANGNYA usia kita? Semakin dekatnya kita dengan KUBUR? SUDAH SIAPKAH kita untuk itu? Akankah kita bisa merayakannya tahun depan?

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diriMEMPERHATIKAN apa yang telah diperbuatnya UNTUK HARI ESOK (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Seorang muslim dia dituntut untuk MUHASABAH setiap hari, karena setiap detik yang dilaluinya TIDAK akan pernah kembali lagi sampai nanti dipertemukan oleh ALLAH pada hari penghisaban , yang tidak ada yang bermanfaat pada hari itu baik anak maupun harta kecuali orang yang menghadap ALLAH dengan membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh.

Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yg mulia yang diajarkan oleh Rasulullah. mendoakan saudarany juga tidak hanya di moment Ultah tapi setiap saat.

Semoga malaikat-Nya mendoakan kalian juga…
Dan semoga Alloh ‘Azza wa Jalla…mengabulkan doa kita semua…

Silahkan dibaca juga link ini :

Siapa bilang kalau Ulang Tahun Tidak ada Kaitannya Dengan Perkara Ibadah ? Silahkan baca :
Sejarah dan Asal usul kue Ulang Tahun
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://www.tokenz.com/history-of-birthday-cake.html

http://www.facebook.com/profile.php?id=100000109380446&ref=ts#!/note.php?note_id=104651970683&id=1275657261&ref=mf

Taken from pemikir-ideologis.blogspot.com

oleh Adim Goekid Khadziya Hope

Saat Raufaidah sedang mengobati pejuang korban Perang Uhud di salah satu tenda pengobatannya, mereka mendengar berita yang mengatakan Rasulullah telah terluka, lantas dari bibir-bibir para perawat mengalir do’a, ” Semoga Allah melindungimu, wahai Rasulullah! ”

Hati mereka sedih bukan main, namun dengan semangat membara, seorang pejuang bernama Muka’bar bangkit tiba-tiba dari bangsalnya dan berseru lantang,

” Allahu Akbar! Wahai para korban! Wahai para prajurit! Bangunlah dari tempat tidur kalian!

Pertahankan agama dan Nabi kalian! Sebab Rasulullah telah terluka dan terus berperang di medan pertempuran. Mengapa kita yang juga terluka harus beristirahat di sini? ” Lalu semua pasukan dan perawat itu ikut tergugah hatinya, ;; kami akan menyongsongmu wahai, Rasulullah! ”

Mereka yang tadinya terbaring karena luka kemudian bangkit, bergabung dengan yang lainnya penuh semangat yang hanya datang dari keimanan yang teguh.

” Aku datang memenuhi seruanmu, wahai Rasulullah! Jiwaku adalah tebusan untukmu, wahai mahluk bumi yang paling kucintai, ”

Mereka mulai bertakbir. ”Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Wahai Rabbku! Aku datang memenuhi pangilan-Mu, wahai Rabbku. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,,,!” tutur seseorang laki-laki yang tubuhnya menyedihkan dengan luka yang sudah parah, Tubuhnya melemas. Matanya terpejam, Napasnya terhenti.

Saat Rufaidah mendekat dan memeriksa, ruhnya telah menuju Rabbnya. ” Semoga Allah menaugimu, wahai pejuang syahid Islam. ”

Korban lain bangkit dari tempat tidur mereka. Mereka bergerak dab berusaha keluar dari tenda pengobatan. Pada saat itu, Rukanah dalam keadaan terbaring berteriak, ” Tolonglah aku, wahai Rufaidah, agar aku bisa kembali ke medan perang!”

” Wahai Rukanah bin Sha’sha’ah, kakimu terputus, saudaraku.
Lalu dengan apa kau berperang?”. ”
Berilah aku kuda yang akan membawaku! Aku akan berperang di jalan Allah sampai kakiku yang lain juga terputus.”
” Kami tidak mempunyai kuda,”
”Bagaimana jika kau berikan tongkat yang bisa kujadikan penopang?”
Lantas Rufaidah mencabut salah satu tongkat yang ada di dekatnya.
” Ambilah tongkat ini, Rukanah! Bertopanglah padanya, dan ini adalah senjatamu.
Bertakwalah pada Allah.
Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mati syahid dan mendapatkan surga.”

Begitulah kesetiaan umat Islam semasa Rasulullah masih hidup. Lalu apa yang menjadi halangan bagi kita untuk membela Rasullulah???
Padahal Rasulullah telah mengistimewakan kita yang belum pernah menatap wajah beliau sama sekali.
‘Sebegitu mulianya umat islam saat ini hingga Rasululloh pernah bersabda ;
” Nanti di akhir zaman, ada umatku yang tidak pernah melihatku, tak pernah bertemu denganku, namun ia begitu mencintaiku, bahkan rela berjuang hingga Allah menyambutnya nanti di akhirat kelak ” ( HR. Bukhari-Muslim )

betapa kita tidak besyukur menjadi seorang muslim dan muslimah???

akan tetapi apa yg telah kita lakukan sekarang????

apa yg kita hasilkan untuk agama kita??

Apa yang telah kita perbuat untuk agama kita??

Mengapa kita hanya berdiam diri saja melihat saudara-saudara kita di palestina di bantai dan dibunuh
oleh zionis yahudi, saudara-saudara kita di pattani, thailand selatan yang juga hidup dalam jauh dari
kata merdeka dan yang terakhir saudara-saudara kita muslim ughur di cina selatan yang juga di bunuh dan diberlakukan semena-mena oleh komunis etnis han??

SABAR dan TETAPLAH MENUNGGU karena waktunya pasti akan datang..seperti kedatangan PASUKAN2 KAUM MUSLIMIN TANGGUH yang akan menaklukkan KOTA ROMA..!!

Apakah pengandaian ini hanya kiasan belaka?? Apakah kita masih harus berSABAR dan masih TETAP MENUNGGU, ataukah sekarang saatnya umat ISLAM BERGERAK DAN BANGKIT, wallahu A’lam

Kapan umat yang begitu di muliakan dan dibanggakan oleh Rasul ini bangkit, saatnya khilafah bangkit, karena harapan itu masih ada, jika KHILAFAH MEMIMPIN DUNIA

Saudaraku,, sesungguhnya dakwah bukanlah sekedar mengisi waktu luang. Dakwah adalah langkah awal perjumpaan kita dengan Allah

Saudaraku,, azamkanlah dalam diri saat ini bahwasanya kita adalah tentara-tentara yang sanggup dan rela berkorban demi Allah! Apapun akan kita lalui hanya untuk-Nya

Saudaraku,,, tiada penyesalan bagi kita karena berada di medan perang ini. Penyesalan hanyalah untuk orang-orang yang selalu menutup dirinya dalam keimanan

Saudaraku,, seorang Mukmin tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya, hidup di akhirat kelak!

Saudaraku,, perjuangan kita belum berakhir, perjalanan kita belumlah sampai ke ujung. Masih banyak liku-liku yang harus kita lewati. Bangunkan orang-orang yang ada di sekitar kita untuk melangkah bersama, semangati mereka yang telah melaju dengan do’a-do’a kita

SEBUAH MUASABAH DIRI UNTUK ANA SENDIRI DAN SEMUA SAUDARA SEIMAN & SEPERJUANGANKU